Barang siapa berniat untuk bersedekah, kecepatan Allah membalasnya lebih dari gerakan sedekahnya
Beranda » Kisah nabi dan Rosul » sejarah nabi muhammad seorang anak yatim piatu sejak usia enam tahun

sejarah nabi muhammad seorang anak yatim piatu sejak usia enam tahun

T Diposting oleh pada 18 April 2019
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 158 kali

Dalam suasana yang sangat kacau penuh kesesatan yang disebut zaman jahiliyyah itu, terjadilah pernikahan agung, antara Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim al-Quraisyi dengan Aminah binti Wahab. Dari pernikahan yang mulia itu, Allah menakdirkan lahirnya manusia yang paling agung dalam sejarah dunia, yaitu Nabi Besar Muhammad pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 570 M. Ketika Nabi masih berada dalam kandungan ibunya. Pada suatu saat ibundanya Siti Aminah, melihat cahaya yang terang benderang dari dirinya dan menerangi istana Kisra di negeri Syam. Ayah Nabi Muhammad Sayyid Abdullah bin Abdul Muthalib meningal dunia ketika beliau masih ada dalam kandungan ibunya.

Beberapa bulan setelah itu berbahagialah Sayyidah Aminah ibunda Nabi Muhammad dan Abdul Mutahalib, kakeknya atas kelahirannya yang diberi nama Muhammad, karena ia akan menjadi orang yang sangat terpuji di masa yang akan datang. Inilah manusia yang paling agung dan paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Petunjuk telah lahir dan alam pun telah menjadi terang bercahaya. Zaman menyambut kelahirannya dengan senyum ceria. Muhammad kecil dipelihara oleh ibunya dan kemudian disusukan kepada Halimah al-Sa’diyah kaum Bani Sa’ad dari Bani Zuhrah sampai susuannya berakhir, kemudian kembali kepangkuan ibundanya atas tanggungan kakeknya Abdul Muthalib.

Ketika umur beliau mencapai usia 6 tahun, ketika ia mulai menanyakan ayahnya kepada ibundanya yang amat dicintainya, sampailah informasi padanya tentang kewafatan ayahnya. Ketika ia masih berada dalam kandungan, maka ia pun sadar bahwa dirinya adalah anak yatim. Pada usia itu beliau diajak ibundanya Aminah untuk berziarah ke Yastrib mengunjungi saudar-saudara kakeknya dari keluarga Najjar. Perjalanan ke Yatsrib ditemani Ummu Aiman seorang pembantu wanita yang disiapkan Abdullah sebelum beliau wafat. Sampai di Madinah, Muhammad kecil diajak berziarah ke suatu rumah tempat ayahnya dahulu meninggal, serta berziarah ke tempat kuburan ayahnya. Suasana itu dirasakan begitu berat dan mengharukan, apalagi bagi Muhammad kecil yng telah menjadi yatim. (Husein Haikal, 1998: 54).

Setelah beberapa lama tinggal di Madinah, Aminah, Muhammad, dan Ummu Aiman bersiap-siap untuk pulang ke Makkah. Dalam perjalanan pulang, ketika mereka sampai di kampung Abwa’, ibunda Aminah merasa sakit, yang kemudian meninggal dunia dan dikuburkan di tempat itu juga. Muhammad kecil kembali menghadapi cobaan yang sangat berat, ibarat luka belum sembuh karena ditinggalkan ayahahandanya, tergores luka baru dengan wafatnya ibunda yang sangat dicintainya. Muhammad kini menjadi seorang yang yatim dan piatu dalam usia 6 tahun. Kemudian Ummu Aiman membawanya pulang ke Makkah. Anak itu pulang sambil menangis dengan hati yang perih, hidup sebatang kara. Baru beberapa hari yang lalu ia menyaksikan rumah tempat ketika ayahnya wafat dan kuburan ayahnya, kini ia melihat sendiri di hadapannya, ibundanya pergi, wafat tidak kembali untuk selama-lamanya.

Anak yang masih amat kecil itu mendapat cobaan yang sangat berat, memikul beban hidup yang memilukan, sebagai seorang anak yang yatim dan piatu. Dua tahun setelah beliau berada dalam asuhan dan bimbingan kakeknya Abdul Muthalib pun wafat. Sebelum meninggal dunia, Abdul Muthalib menyerahkan cucunya kepada anaknya yang sekaligus paman Nabi, yaitu Abu Thalib. Kemudian merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ketika di Makkah Muhammad kecil dipelihara kakeknya Abdul Muthalib. Kakeknya sangat mencintainya, ia memeliharannya dengan penuh kasih sayang, sungguhpun demikian, peristiwa sedih sebagai anak yatim piatu itu bekasnya masih mendalam sekali pada jiwanya, sehingga dalam al-Qur’an disebutkan: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. al-Dhuha, 93: 6).

Belum ada Komentar untuk sejarah nabi muhammad seorang anak yatim piatu sejak usia enam tahun

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

a Artikel Terkait sejarah nabi muhammad seorang anak yatim piatu sejak usia enam tahun

Kisah Nabi Zakaria as.

T 19 December 2017 F A Admin-CQ

Kisah Nabi dan Rosul memiliki nilai pelajaran dan hikmah yang sangat penting bagi umat islam. Bukan hanya untuk orang dewasa tetapi lebih penting lagi untuk anak-anak. dengan mengenal sejarah Nabi dan Rosul maka diharapkan anak-anak akan mencintai Rosul dan menjadikan... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan ? Silahkan hubungi kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai Yayasan Cahaya Qolbu Insani

Kantor Yayasan

Jl. Raya Karang Satria, Kp. Rawakalong,

No. 129, Rt 002 Rw 05, Desa Karang Satria,

Kec. Tambun Utara, Kab. Bekasi

 

Telpon : 021-82654306

Hotline : 0817717707954

Email : cahayaqolbuinsani@gmail.com

Rekening Donasi

Bank Mandiri Cabang Bekasi

No. 156-00-1194267-1

a/n : Yayaysan Cahaya Qalbu Insani

 

BRI Cabang Bekasi

No. 0139-01-018440-53-6

a/n : Yayaysan Cahaya Qalbu Insani

 

Bank BCA

No. 8420-674229

a/n : Afrizal dan Fahmi Amri Dinilah

 

Rekening Wakaf

Bank Muamalat

No. 3470011369

a/n : Yayasan Cahaya Qalbu Insani